Selasa, 22 Desember 2009

Discovery 4: Biogas-Ampas Tahu

Ampas Tahu Hasilkan Biogas Lebih Baik

Ampas tahu dan sampah rumah tangga dapat menghasilkan biogas dengan kuantitas dan kualitas lebih baik daripada kotoran ternak. Selain lebih mudah didapat, ampas tahu dan sampah rumah tangga lebih dapat mendorong masyarakat untuk menggunakan biogas.

Pengajar Program Studi Teknologi Hasil Ternak Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro, Semarang, Sutaryo, menyebutkan hal tersebut di Kota Semarang, Jawa Tengah, ”Komposisi nutrisi kedua limbah itu lebih baik karena mengandung protein dan lemak lebih tinggi daripada kotoran ternak. Selain itu, jumlah gas yang dihasilkan lebih besar,” katanya.

Secara kuantitas, hasil penelitian yang dilakukan oleh Sutaryo dan tim menyebutkan biogas dari limbah organik menghasilkan lebih banyak biogas. Sebagai gambaran, 15,3 liter larutan feses sapi perah yang dimasukkan dalam digester (tempat untuk mencerna biogas) setiap harinya dapat menghasilkan 124,9 liter biogas. Adapun 2,4 liter larutan ampas tahu yang dimasukkan dalam digester per hari dapat menghasilkan 381,82 liter biogas.

Sampah rumah tangga juga demikian. Dari 4,2 liter larutan limbah dapat menghasilkan 420,01 liter biogas. Dengan jumlah larutan lebih sedikit, biogas yang dihasilkan ampas tahu dan limbah organik hasilnya lebih besar.

Namun, Sutaryo juga menjelaskan, sebelum penggunaan ampas tahu dan limbah organik, kotoran hewan tetap dibutuhkan, terutama sebagai pemicu awal.

Kepala Seksi Pengembangan Teknologi dan Pengusahaan Minyak dan Gas Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jateng Agus Sugiharto mengatakan, Dinas ESDM membuka peluang bagi setiap masyarakat yang ingin mengembangkan biogas di wilayah Jateng tetapi tidak mampu.

Guna mengembangkan potensi biogas, Pemerintah Provinsi Jateng memulai dengan memberi stimulan tahun 2009 berupa demplot biogas di tiga kabupaten sentra peternakan, yaitu di Sragen, Boyolali, dan Blora.


Memanfaatkan Limbah Tahu Menjadi Biogas

idak hanya merugi akibat tingginya harga kedelai, kini produsen tahu juga kesulitan memperoleh minyak tanah. Untuk mengatasi hal tersebut, mereka memanfaatkan limbah tahu sebagai bahan bakar biogas untuk proses membuat tahu. Hal itu yang kini dilakoni Teguh, seorang produsen tahu di Magelang, Jawa Tengah.

Teguh menggunakan biogas dari limbah tahu sebagai pengganti kompor gas yang selama ini digunakan untuk proses pembuatan tahu. Dengan memanfaatkan biogas, Teguh bisa menekan angka kerugian akibat tingginya harga kedelai sekitar Rp 100 ribu.

Biogas dari limbah tahu ini bisa bertahan selama empat hari. Banyaknya limbah tahu yang tersisa membuat Teguh tidak kekurangan bahan untuk pembuatan biogas. Teguh mengaku, melalui teknologi ini dirinya dapat mengurangi beban ongkos pembuatan tahu.

Pembuatan biogas sangat sederhana. Ampas tahu diayak dan dipisahkan dari cetakannya untuk kemudian air limbahnya dimasukkan ke dalam bak penampungan. Air limbah disaring beberapa kali hingga menghasilkan biogas yang kemudian dialirkan ke kompor.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar