Di Mendek, pahlawan yang dielu-elukan bukan tokoh super yang bisa terbang. Tapi seseorang yang membuktikan bahwa kegiatan menyelamatkan lingkungan dan menghemat energi dapat berjalan bersamaMalang. Slamet, 37, adalah warga dusun Mendek di desa Srigading yang memiliki kegigihan dan keuletan yang sedang menjadi pembicaraan desa berpenduduk 4.780 orang itu.
Seperti daerah pedesaan lain di Indonesia, Srigading sangat terpukul dengan naiknya harga minyak tanah dan untuk memasak kini mereka terpaksa menggunakan kayu bakar. Slamet dan istrinya tak punya pilihan kecuali mendaki tebing-tebing terjal Pegunungan Tengger demi mendapatkan ranting kering untuk memasak. Bukan hanya lelah yang didapat, tuduhan sebagai perambah hutan yang merusak lingkungan sering dialamatkan kepada mereka.
Untuk menambah pengetahuan masyarakat seputar perlindungan hutan dan mata air di desa asal mata air Sumber Jengkol itu, ESP memulai program Sekolah Lapangan pada Februari 2007. Sebagai salah seorang peserta, banyak ilmu seputar perlindungan hutan dan mata air yang didapat oleh Slamet. Salah satunya seputar cara-cara kreatif untuk mengurangi pencemaran lingkungan sekaligus menambah penghasilan. Contohnya, menyulap kotoran sapi yang banyak terdapat di Mendek, menjadi biogas, bahan bakar alternatif untuk memasak.
Biogas tidak merusak lingkungan karena CO2 yang dihasilkan langsung dapat diserap tanaman sehingga emisi yang dihasilkan di atmosfer sangat sedikit.
Pengetahuan baru ini menginspirasi Slamet untuk meningkatkan taraf hidupnya tidak hanya melalui susu tapi juga kotoran yang diproduksi dua ekor sapi miliknya. Bulan Juli sampai Oktober, bersama 25 orang warga Mendek yang lain, Slamet mengunjungi desa Toyomerto di Batu untuk belajar cara membuat biogas dari kotoran sapi. Desa Toyomerto dikenal sebagai salah satu sentra biogas di Kota Batu dan memiliki populasi sapi 2.000, alias dua kali lipat dari jumlah penduduknya.
Berbekal uang tabungan Rp. 1,2 juta, Slamet memulai konstruksi biodigester yang terdiri dari dua bak untuk memproses kotoran sapi menjadi biogas. Untuk menghasilkan biogas yang cukup dipakai memasak selama berhari-hari, Slamet memasukkan 40 kilogram kotoran dari dua ekor sapi miliknya ke dalam bak penampung setiap dua hari sekali. Kotoran tersebut kemudian dicampur dengan air dan didiamkan selama 6 hari sampai membusuk. Campuran air dan kotoran sapi ini akan memproduksi gas yang dihubungkan ke bak kedua dengan pipa PVC. Sebuah pipa yang lain akan mengalirkan gas dari bak penampung ke kompor, dan biogas pun siap dipakai untuk memasak.
Enam hari setelah menyelesaikan konstruksi biodigesternya, Slamet berhasil menyalakan api di kompor gasnya menggunakan gas alternatif tersebut. Kotoran sapi yang selama ini terbuang percuma, kini memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Warga Srigading pun ramai membicarakan “proyek halaman belakang” di rumah Slamet.
“Yang bikin bangga, ternyata saya bisa juga menyulap kotoran sapi jadi api,” kata Slamet sambil tertawa.
Dalam beberapa minggu, Slamet mulai kebanjiran pesanan membuat biodigester dari warga Srigading. Slamet menolak tawaran-tawaran itu karena merasa masih perlu banyak belajar untuk menyempurnakan konstruksi biodigesternya sebelum menerima pesanan dari orang lain.
“Saya akan terus belajar, karena kelak saya akan memberi contoh kepada orang-orang yang ingin membuat biodigester. Semakin bagus konstruksi saya, semakin besar kemungkinan orang-orang di Srigading memiliki biodigester yang bagus.”
Energi Biru Dari Kotoran Ternak
Bahan organik dimasukkan ke dalam ruangan tertutup kedap udara (disebut Digester) sehingga bakteri anaerob akan membusukkan bahan organik tersebut yang kemudian menghasilkan gas (disebut Biogas). Biogas yang telah terkumpul di dalam digester selanjutnya dialirkan melalui pipa penyalur gas menuju tabung penyimpan gas atau langsung ke lokasi penggunaannya.
Komposisi gas yang terdapat di dalam Biogas dapat dilihat pada tabel berikut:
| Jenis Gas | Volume (%) |
| Methana (CH4) | 40 – 70 |
| Karbondioksida (CO2) | 30 – 60 |
| Hidrogen (H2) | 0 – 1 |
| Hidrogen Sulfida (H2S) | 0 – 3 |
dari fosil.Biogas dapat dipergunakan dengan cara yang sama seperti gas-gas mudah terbakar yang lain. Pembakaran biogas dilakukan dengan mencampurnya dengan sebagian oksigen (O2). Namun demi-
kian, untuk mendapatkan hasil pembakaran yang optimal, perlu dilakukan pra kondisi sebelum Biogas dibakar yaitu melalui proses pemurnian/penyaringan karena Biogas mengandung beberapa
gas lain yang tidak menguntungkan. Sebagai salah satu contoh, kandungan gas Hidrogen Sulfida yang tinggiyang terdapat dalam Biogas jika dicampur dengan Oksigen dengan perbandingan 1:20, maka akan menghasilkan gas yang sangat mudah meledak. Tetapi sejauh ini belum pernah dilapor-
kan terjadinya ledakan pada sistem Biogas sederhana.
Biogas Kotoran Sapi Jadi Energi Alternatif, Dua Tahun Tak Beli Minyak Tanah “
Biogas Kotoran Sapi Jadi Energi Alternatif, Dua Tahun Tak Beli Minyak Tanah
Samnah asyik mengaduk kotoran sapi yang baru saja diambilnya dari kandan milik suaminya Iskak, Kamis (8/5). Tanpa rasa jijik, dia memilah ampas kotoran ternak itu lalu memasukkannya ke plastik reaktor. Didalam kantong plastik besar yang disebut reaktor itulah kotoran sapi diolah menjadi energi pengganti bahan bakar minyak (BBM).
Setelah memastikan reaktornya penuh, Samnah segera mencuci bersih tangannya dan bergegas masuk ke dapur. Kompor kecil berbahan bakar biogas di meja dapur menjadi tujuannya. Kemudian, dia membenarkan letak pipa penghubung gas dari biogas di dalam reaktor ke kompor.
Samnah lalu mengambil korek dan menyulutnya di tengah kompor. Kompor pun menyala dengan warna api biru. Sebiru kompor berbahan gas elpiji yang saat ini sudah mulai langka. Dia pun menggoreng keripik singkong sebagai teman minum teh di pagi hari kemarin. Dua tahun sudah kegiatan mengisi reaktor gas itu dilakukan Samnah. Selama itu pula, warga Gang Arjuno, Jalan Pondok Empat Kelurahan Loktabat Utara tersebut tak lagi pusing dengan kelangkaan BBM jenis minyak tanah maupun elpiji.
Keuntungan dari pengembangan bio gas ini, kompor jauh lebih efisien dan irit. Dia tidak perlu mengeluarkan ongkos sebanyak Rp 20.000 untuk membeli minyak tanah seperti sebelumnya dilakukan. Walau modal awal diperlukan dana sekitar Rp 2,5 juta untuk satu reaktor. Namun kompor akan awet selama delapan tahun. “Dengan waktu memasak empat jam secara terus menerus selama sehari, memang lebih hemat dari membeli minyak tanah,” timpal Iskak.
Di rumah Iskak memang ada puluhan ekor sapi yang digemukkan. Setiap hari ada puluhan ton kotoran sapi yang dihasilkan. Dulu limbah itu dibuang begitu saja, atau sekadar dijadikan kompos atau pupuk kandang. Sekarang kotoran sapi ini bisa jadi barang berharga.
Pembuatan Biogas
Bio gas sangat mudah diproduksi. Bahan dasarnya berupa kotoran sapi diaduk ke dalam drum. Komposisinya setengah drum diisi kotoran sapi sebanyak kira-kira tiga argo (kereta dorong yang biasa untuk mengangkut bahan bangunan). Baru seperempatnya ditambahi air. Setelah komposisi itu terpenuhi, kotoran sapi dan air diaduk merata. Ampas kotoran dari rumput-rumputan yang belum halus oleh proses pencernaan di dalam perut sapi dipisahkan. Ini dilakukan agar tidak terjadi penyumbatan saat dimasukkan ke dalam reaktor.
Setelah dipastikan terpisah, campuran air dan kotoran sapi bisa ini dimasukkan ke dalam reaktor. Dulunya, di dalam reaktor itu diberikan obat semacam perangsang pertumbuhan gas yang memang telah potensial ada terkandung di dalam kotoran sapi. “Tapi itu hanya sekali pakai saja waktu pertama. Selanjutnya ya mudah saja seperti ini. Kotoran sapinya diulet dengan air dan dimasukkan ke dalam reaktor,” ungkap Iskak, sambil memperagakan cara pembuatan bio gas.
Di dalam reaktor, proses pembuatan gas itu terjadi secara alami. Gas ini pun langsung dapat dialirkan ke kompor melalui pipa penghubung reaktor dan kompor dan nyala api pun bisa didapatkan. Kompor siap dipakai. Dengan campuran sebanyak satu drum ini, kompor bisa bertahan selama seharian penuh. Bahkan tidak mati walau dipakai terus menerus selama empat jam lamanya, jika bahan bakunya melimpah dan reaktor terisi terus.
Karena mudahnya cara membuat bio gas ini, dua tahun silam catatan BPost, Dinas Pertambangan dan Energi (Distamben) meminta Kabupaten/Kota se Kalsel menganggarkan dana APBD masing-masinguntuk pengembangannya. Terutama daerah yang memiliki potensi peternakan sapi, kerbau dan babi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar